KAMAR DIALEKTIKA
Minggu, 17 Juni 2012
TENTANG PENSIL
Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.
“Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?”
Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya,
“Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai. Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti”, ujar si nenek lagi.Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.
“Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya”, Ujar si cucu.
Si nenek kemudian menjawab,
“Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini”,
Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.
pertama:
pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya Allah, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya”.
kedua:
dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.
ketiga:
pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.
keempat:
bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.
kelima:
sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan…
Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan tinggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini.
(unknown author)
Selasa, 14 Februari 2012
KATA MUTIARA PAULO COELHO DALAM BUKU THE FIFTH MOUNTAIN (GUNUNG KELIMA)
• Ku biarkan pikiranku mengembara tanpa tujuan, seperti awan-awan di langit.
• Rencana-Nya tidak selalu sejalan dengan keadaan kita atau apa yang kita rasakan, tapi yakinlah... Dia punya alasan sendiri untuk semua ini. (h.19)
• Jiwa manusia seperti halnya sungai dan tanaman, juga membutuhkan hujan, meski dari jenis yang berbeda; harapan, keyakinan, alasan untuk hidup. Tanpa itu, segala sesuatu di dalam jiwa tersebut akan mati (h.37-38)
• Manusia tidak bisa melawan takdirnya, dia sudah mencoba, dan gagal. (h.38)
• Manusia menjadi dua kelompok, mereka yang menjalani pekerjaannya dengan suka cita, dan mereka yang mengeluhkan pekerjaannya. (h.44-43)
• Tapi orang tak mungkin gagal meraih impiannya. Meski pada saat-saat tertentu dia yakin dunia ini dan orang-orang lain lebih kuat daripada dirinya. Rahasianya cuma satu: Jangan Menyerah. (h.46).
• Manusia mesti melewati berbagai tahap sebelum dia bisa memenuhi takdirnya. (h.49)
• Kita punya senjata yang jauh lebih kuat daripada mereka; uang. (h.66-67)
• Dari segala macam senjata penghancur ciptaan manusia, yang paling berbahaya dan paling kuat adalah kata-kata. Belati dan tombak meninggalkan bekas-bekas darah, anak panah bisa terlihat dari kejauhan. Racun bisa dideteksi dan dihindari. Tapi kata-kata bisa menghancurkan tanpa meninggalkan jejak. (h.92)
• Tidak ada yang ku takuti kecuali dua hal ini; Tuhan, dan diriku sendiri. (h.98)
• Dari arah mana pun kau melihatnya, gunung itu kelihatan beda, padahal dia gunung yang sama. Begitu pula halnya seluruh Ciptaan; mereka merupakan cerminan wajah berbeda dari Tuhan yang sama. (h.103)
• Pejuang yang hebat adalah yang berhasil mengubah musuh menjadi sahabat. (h.107)
• Kalau cinta menghinggapinya, dia sendiri yang harus bertanggung jawab terhadap konsekuensi-konsekuensinya. (h.117)
• Seperti inilah kebebasan; bisa merasakan apa yang dihasratkan hati, tanpa perlu memikirkan pendapat orang lain. (h.119)
• Tuhan mendengarkan doa-doa orang-orang yang dijauhkan dari kebencian. Tapi Dia menulikan diri dari orang-orang yang hendak melarikan diri dari cinta. (h.125)
• Dalam setiap masa kehidupan manusia, Tuhan memberikan kekhawatirannya sendiri-sendiri (p.155)
• Tidak ada yang namanya kesempatan langka, Tuhan memberikan banyak kesempatan kepada manusia. (p.167)
• Rencana-Nya tidak selalu sejalan dengan keadaan kita atau apa yang kita rasakan, tapi yakinlah... Dia punya alasan sendiri untuk semua ini. (h.19)
• Jiwa manusia seperti halnya sungai dan tanaman, juga membutuhkan hujan, meski dari jenis yang berbeda; harapan, keyakinan, alasan untuk hidup. Tanpa itu, segala sesuatu di dalam jiwa tersebut akan mati (h.37-38)
• Manusia tidak bisa melawan takdirnya, dia sudah mencoba, dan gagal. (h.38)
• Manusia menjadi dua kelompok, mereka yang menjalani pekerjaannya dengan suka cita, dan mereka yang mengeluhkan pekerjaannya. (h.44-43)
• Tapi orang tak mungkin gagal meraih impiannya. Meski pada saat-saat tertentu dia yakin dunia ini dan orang-orang lain lebih kuat daripada dirinya. Rahasianya cuma satu: Jangan Menyerah. (h.46).
• Manusia mesti melewati berbagai tahap sebelum dia bisa memenuhi takdirnya. (h.49)
• Kita punya senjata yang jauh lebih kuat daripada mereka; uang. (h.66-67)
• Dari segala macam senjata penghancur ciptaan manusia, yang paling berbahaya dan paling kuat adalah kata-kata. Belati dan tombak meninggalkan bekas-bekas darah, anak panah bisa terlihat dari kejauhan. Racun bisa dideteksi dan dihindari. Tapi kata-kata bisa menghancurkan tanpa meninggalkan jejak. (h.92)
• Tidak ada yang ku takuti kecuali dua hal ini; Tuhan, dan diriku sendiri. (h.98)
• Dari arah mana pun kau melihatnya, gunung itu kelihatan beda, padahal dia gunung yang sama. Begitu pula halnya seluruh Ciptaan; mereka merupakan cerminan wajah berbeda dari Tuhan yang sama. (h.103)
• Pejuang yang hebat adalah yang berhasil mengubah musuh menjadi sahabat. (h.107)
• Kalau cinta menghinggapinya, dia sendiri yang harus bertanggung jawab terhadap konsekuensi-konsekuensinya. (h.117)
• Seperti inilah kebebasan; bisa merasakan apa yang dihasratkan hati, tanpa perlu memikirkan pendapat orang lain. (h.119)
• Tuhan mendengarkan doa-doa orang-orang yang dijauhkan dari kebencian. Tapi Dia menulikan diri dari orang-orang yang hendak melarikan diri dari cinta. (h.125)
• Dalam setiap masa kehidupan manusia, Tuhan memberikan kekhawatirannya sendiri-sendiri (p.155)
• Tidak ada yang namanya kesempatan langka, Tuhan memberikan banyak kesempatan kepada manusia. (p.167)
Senin, 06 Desember 2010
KATA MUTIARA IMAM SYAFI'I
Di bawah ini, penulis mengutip beberapa kata mutiara (yang penuh hikmah) dari sang imam.
1. “Keridhaan manusia adalah samudera yang tak terjangkau. Tidak ada jalan keselamatan dari mereka. Maka, hendaklah engkau konsisten dengan apa-apa yang bermanfaat bagimu.”
2. “Ilmu adalah yang dimanfaatkan oleh orang banyak, bukan yang dihafal.”
3. “Barangsiapa yang tidak dimuliakan oleh ketakwaan, maka tidak ada kemuliaan baginya.”
4. Beliau pernah ditanya: ‘Kenapa engkau banyak sekali memegang tongkat, padahal engkau belum lemah?’ Beliau menjawab: “Agar aku ingat, bahwa aku ini seorang “musafir”.”
5. “Barangsiapa yang mengikuti hawa nafsu, maka dia akan menjadi budak anak-anak dunia ini.”
6. “Kebaikan itu dalam lima hal: kaya hati; menyingikirkan hal-hal yang bisa menyakiti (fisik dan perasaan) orang lain; mencari harta halal; takwa; dan yakin terhadap Allah.”
7. “Sebaik-baik investasi adalah takwa. Dan investasi yang paling berbahaya adalah “permusuhan”.”
8. “Menghindari kemaksiatan dan meninggalkan hal yang tidak bermanfaat bagimu akan menyinari hati.”
9. “Hendaklah engkau ber’khalwat’ (dzikir mengingat Allah, dosa-dosa, dalam kesendirian); sedikit makan; jauhi orang-orang dungu dan orang yang tidak bisa melihat dirimu secara adil.”
10. “Jika engkau tidak mampu mengekang lidahmu untuk berkata-kata yang tidak bermanfaat bagimu, kata-katamu akan mengekangmu, bukan engkau yang mengekangnya.”
11. “Orang berakal adalah: yang diikat oleh akalnya dari hal-hal tercela.”
12. “Marwah (harga diri) itu empat hal: akhlak yang mulia; dermawan; rendah hati (tawadhu’); dan banyak ibadah.”
13. “Tawadhu itu akhlak orang-orang mulia; sombong adalah sifat orang-orang tercela; tawadhu’ itu mewariskan kecintaan (mahabbah); dan qana’ah mewariskan rasa tenang.”
14. “Manusia yang paling tinggi derajatnya adalah yang tidak pernah mau tahu bagaimana derajatnya (di tengah-tengah manusia) dan manusia yang paling mulia adalah yang tidak pernah merasa punya kelebihan.”
15. “Manusia lalai dari ayat ini (إنّ الإنســـان لفي خـــسر): “Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian.” Oleh karenanya, beliau membagi malamnya menjadi tiga bagian: seperti pertama untuk untuk “menulis”; sepertiga kedua untuk “shalat” (ibadah); dan seperti terakhir untuk “tidur” (istirahat)
sumber: http://qosim.multiply.com/journal/item/263/263
1. “Keridhaan manusia adalah samudera yang tak terjangkau. Tidak ada jalan keselamatan dari mereka. Maka, hendaklah engkau konsisten dengan apa-apa yang bermanfaat bagimu.”
2. “Ilmu adalah yang dimanfaatkan oleh orang banyak, bukan yang dihafal.”
3. “Barangsiapa yang tidak dimuliakan oleh ketakwaan, maka tidak ada kemuliaan baginya.”
4. Beliau pernah ditanya: ‘Kenapa engkau banyak sekali memegang tongkat, padahal engkau belum lemah?’ Beliau menjawab: “Agar aku ingat, bahwa aku ini seorang “musafir”.”
5. “Barangsiapa yang mengikuti hawa nafsu, maka dia akan menjadi budak anak-anak dunia ini.”
6. “Kebaikan itu dalam lima hal: kaya hati; menyingikirkan hal-hal yang bisa menyakiti (fisik dan perasaan) orang lain; mencari harta halal; takwa; dan yakin terhadap Allah.”
7. “Sebaik-baik investasi adalah takwa. Dan investasi yang paling berbahaya adalah “permusuhan”.”
8. “Menghindari kemaksiatan dan meninggalkan hal yang tidak bermanfaat bagimu akan menyinari hati.”
9. “Hendaklah engkau ber’khalwat’ (dzikir mengingat Allah, dosa-dosa, dalam kesendirian); sedikit makan; jauhi orang-orang dungu dan orang yang tidak bisa melihat dirimu secara adil.”
10. “Jika engkau tidak mampu mengekang lidahmu untuk berkata-kata yang tidak bermanfaat bagimu, kata-katamu akan mengekangmu, bukan engkau yang mengekangnya.”
11. “Orang berakal adalah: yang diikat oleh akalnya dari hal-hal tercela.”
12. “Marwah (harga diri) itu empat hal: akhlak yang mulia; dermawan; rendah hati (tawadhu’); dan banyak ibadah.”
13. “Tawadhu itu akhlak orang-orang mulia; sombong adalah sifat orang-orang tercela; tawadhu’ itu mewariskan kecintaan (mahabbah); dan qana’ah mewariskan rasa tenang.”
14. “Manusia yang paling tinggi derajatnya adalah yang tidak pernah mau tahu bagaimana derajatnya (di tengah-tengah manusia) dan manusia yang paling mulia adalah yang tidak pernah merasa punya kelebihan.”
15. “Manusia lalai dari ayat ini (إنّ الإنســـان لفي خـــسر): “Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian.” Oleh karenanya, beliau membagi malamnya menjadi tiga bagian: seperti pertama untuk untuk “menulis”; sepertiga kedua untuk “shalat” (ibadah); dan seperti terakhir untuk “tidur” (istirahat)
sumber: http://qosim.multiply.com/journal/item/263/263
Minggu, 26 September 2010
JALAN KEHANCURAN ITU BERNAMA PEMILUKADA
Pemilihan Umum Kepala Daerah (PEMILUKADA) sejatinya merupakan upaya untuk menciptakan demokratisasi yang berkeadilan, yang pada akhirnya adalah terwujudnya masyarakat yang sejahtera. Namun, sayangnya tujuan tersebut baru hanya sebatas mimpi, sebatas cita-cita dan harapan yang sampai hari ini belum juga mewujud, bahkan layak diibaratkan jauh api dari panggang.
Demokrasi yang hari ini kita pilih adalah demokrasi yang sangat mahal harganya. Betapa tidak, berapa banyak uang Negara yang dikuras untuk pelaksanaan Pemilukada. Bukan hanya itu, setiap calon Gubernur/Bupati/Walikota sudah barang tentu juga menyiapkan sejumlah dana untuk bisa menjadi pemenang. Membayar “mahar” kepada partai politik pendukung, yang pada akhirnya banyak terjadi politik transaksional dalam proses Pemilukada.
Sudah menjadi rahasia umum, praktek money politik seolah-olah merupakan sebuah keharusan yang mesti dipenuhi jika ingin dipilih oleh rakyat. Dan anehnya, itu dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa, suatu hal yang sangat wajar. Ditambah lagi mentalitas sebagian rakyat yang hanya ingin memilih jika diberikan sejumlah uang oleh para kandidat. Maju tak gentar membela yang bayar menjadi semboyan kebanyakan rakyat dalam pemilukada. Mereka yang tidak punya uang, jangan harap bisa terpilih atau maju sebagai calon Gubernur/Bupati/walikota.
Apakah demokrasi semacam ini yang kita inginkan? Demokrasi semu dan prosedural. Demokrasi yang miskin substansial. Demokrasi yang jauh dari cita-cita kemerdekaan. Lalu, pertanyaannya selanjutnya adalah apa yang dihasilkan dari Pemilukada? Apakah rakyat menjadi sejahtera? Apakah pengangguran berkurang? Apakah pembangunan infrastruktur di daerah meningkat?
Tentu jawaban yang kita harapkan dari pertanyaan di atas adalah iya. Namun realitas sosial berkata lain. Pemilukada yang pada awalnya diharapkan dapat melahirkan pemimpin yang lebih merakyat, justru melahirkan raja-raja kecil, para penguasa yang hanya berpikir bagaimana modal politik mereka bisa kembali. Sehingga yang ditimbulkan adalah bukan pemerataan pembangunan yang terjadi, tetapi malah tindakan korupsi yang merata. Menyedihkan, mengkhawatirkan, bahkan mengecewakan.
Dampak Pemilukada
Selain memakan biaya yang sangat tinggi, pemilukada juga membawa dampak yang luar biasa mengkhawatirkan dan perlu dicarikan jalan keluarnya. Sebab jika tidak, sama saja kita membiarkan bangsa ini berjalan menuju sebuah kehancuran.
Seringkali kita saksikan di media massa, bahwa pemilukada banyak melahirkan problem baru. Hampir di setiap pemilukada, selalu diiringi oleh berbagai konflik, kerusuhan, perpecahan, dan lain sebagainya. Seolah-olah menjadi pandangan yang lazim ditemukan sebelum, saat, dan setelah pemilukada berlangsung. Mereka yang kalah dan merasa tidak puas dalam pemilukada kemudian menghancurkan fasilitas umum, membakar kantor KPU, merusak gedung kepala daerah, dan sebagainya. Ajaran Machiavelli yang menghalalkan segala macam cara diamini dan diikuti.
Rasa-rasanya sebelum ada pemilihan kepala daerah secara langsung, hal tersebut belum pernah terjadi. Namun hari ini, tindakan tersebut seakan-akan sudah seperti tontonan sehari-hari selepas pemilukada.
65 tahun yang lalu, Bung Karno didampingi Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Setelah ratusan tahun lamanya, bangsa ini hidup di bawah penjajahan bangsa asing. Sudah tak terhitung lagi, berapa banyak darah yang mengalir, air mata yang menetes, dan nyawa yang hilang demi meraih kemerdekaan Indonesia.
Namun sayangnya, kemerdekaan yang sudah diraih oleh para pendahulu kita belum sepenuhnya kita syukuri. Maka, ada baiknya para aparat penyelenggara Negara, baik di tingkat eksekutif, legistalif, maupun yudikatif bersama-sama mengkaji kembali pelaksanaan pemilukada secara langsung yang banyak menghabiskan anggaran negara dan memakan korban. Jangan sampai, kemerdekaan yang sudah direbut dengan darah dan air mata dan nyawa menjadi sia-sia.
Dirgahayu Republik Indonesia ke 65, bagaimanapun dirimu saat ini, kau tetaplah Indonesiaku.
Demokrasi yang hari ini kita pilih adalah demokrasi yang sangat mahal harganya. Betapa tidak, berapa banyak uang Negara yang dikuras untuk pelaksanaan Pemilukada. Bukan hanya itu, setiap calon Gubernur/Bupati/Walikota sudah barang tentu juga menyiapkan sejumlah dana untuk bisa menjadi pemenang. Membayar “mahar” kepada partai politik pendukung, yang pada akhirnya banyak terjadi politik transaksional dalam proses Pemilukada.
Sudah menjadi rahasia umum, praktek money politik seolah-olah merupakan sebuah keharusan yang mesti dipenuhi jika ingin dipilih oleh rakyat. Dan anehnya, itu dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa, suatu hal yang sangat wajar. Ditambah lagi mentalitas sebagian rakyat yang hanya ingin memilih jika diberikan sejumlah uang oleh para kandidat. Maju tak gentar membela yang bayar menjadi semboyan kebanyakan rakyat dalam pemilukada. Mereka yang tidak punya uang, jangan harap bisa terpilih atau maju sebagai calon Gubernur/Bupati/walikota.
Apakah demokrasi semacam ini yang kita inginkan? Demokrasi semu dan prosedural. Demokrasi yang miskin substansial. Demokrasi yang jauh dari cita-cita kemerdekaan. Lalu, pertanyaannya selanjutnya adalah apa yang dihasilkan dari Pemilukada? Apakah rakyat menjadi sejahtera? Apakah pengangguran berkurang? Apakah pembangunan infrastruktur di daerah meningkat?
Tentu jawaban yang kita harapkan dari pertanyaan di atas adalah iya. Namun realitas sosial berkata lain. Pemilukada yang pada awalnya diharapkan dapat melahirkan pemimpin yang lebih merakyat, justru melahirkan raja-raja kecil, para penguasa yang hanya berpikir bagaimana modal politik mereka bisa kembali. Sehingga yang ditimbulkan adalah bukan pemerataan pembangunan yang terjadi, tetapi malah tindakan korupsi yang merata. Menyedihkan, mengkhawatirkan, bahkan mengecewakan.
Dampak Pemilukada
Selain memakan biaya yang sangat tinggi, pemilukada juga membawa dampak yang luar biasa mengkhawatirkan dan perlu dicarikan jalan keluarnya. Sebab jika tidak, sama saja kita membiarkan bangsa ini berjalan menuju sebuah kehancuran.
Seringkali kita saksikan di media massa, bahwa pemilukada banyak melahirkan problem baru. Hampir di setiap pemilukada, selalu diiringi oleh berbagai konflik, kerusuhan, perpecahan, dan lain sebagainya. Seolah-olah menjadi pandangan yang lazim ditemukan sebelum, saat, dan setelah pemilukada berlangsung. Mereka yang kalah dan merasa tidak puas dalam pemilukada kemudian menghancurkan fasilitas umum, membakar kantor KPU, merusak gedung kepala daerah, dan sebagainya. Ajaran Machiavelli yang menghalalkan segala macam cara diamini dan diikuti.
Rasa-rasanya sebelum ada pemilihan kepala daerah secara langsung, hal tersebut belum pernah terjadi. Namun hari ini, tindakan tersebut seakan-akan sudah seperti tontonan sehari-hari selepas pemilukada.
65 tahun yang lalu, Bung Karno didampingi Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Setelah ratusan tahun lamanya, bangsa ini hidup di bawah penjajahan bangsa asing. Sudah tak terhitung lagi, berapa banyak darah yang mengalir, air mata yang menetes, dan nyawa yang hilang demi meraih kemerdekaan Indonesia.
Namun sayangnya, kemerdekaan yang sudah diraih oleh para pendahulu kita belum sepenuhnya kita syukuri. Maka, ada baiknya para aparat penyelenggara Negara, baik di tingkat eksekutif, legistalif, maupun yudikatif bersama-sama mengkaji kembali pelaksanaan pemilukada secara langsung yang banyak menghabiskan anggaran negara dan memakan korban. Jangan sampai, kemerdekaan yang sudah direbut dengan darah dan air mata dan nyawa menjadi sia-sia.
Dirgahayu Republik Indonesia ke 65, bagaimanapun dirimu saat ini, kau tetaplah Indonesiaku.
Sabtu, 29 Mei 2010
TERORISME NEGARA
Aku tak mengerti,
kenapa pemerintah begitu tega
menaikkan harga-harga
ditengah kesulitan warga
Bagiku ini adalah terorisme
dalam wajah yang berbeda
Terorisme Negara kepada rakyatnnya
Aku tak mengerti,
Kenapa pemerintah begitu mudah
tanpa berdosa, menyulitkan rakyat yang sudah sulit?
Menambah penderitaan rakyat yang sudah sangat menderita
Butakah mata mereka?
jutaan masyarakat Indonesia belum merdeka
Tulikah telinga mereka?
Rakyat menjerit karena hidup semakin terhimpit
Aku bertanya,
Di mana hati nurani mereka?
hati nurani telah pergi dari negeri ini?
Hati nurani para pemimpin telah mati
Rakyat dibuat ketakutan
Mereka tak tahu kemana mencari makan
Rakyat dalam bahaya
Mereka terancam tak berdaya
Kemiskinan, pengangguran, penggusuran, dan kebodohan
Orang miskin dilarang sakit
Karena biaya pengobatan menjunjung tinggi selangit
Orang miskin dipaksa tak sekolah
Karena spp mahal tak terjamah
Indonesia kembali berduka,
Rakyat kembali dibuat sengsara…
Sungguh, aku tak mengerti
kenapa Negara menteror warganya sendiri??
Teror dalam wajah yang berbeda
kenapa pemerintah begitu tega
menaikkan harga-harga
ditengah kesulitan warga
Bagiku ini adalah terorisme
dalam wajah yang berbeda
Terorisme Negara kepada rakyatnnya
Aku tak mengerti,
Kenapa pemerintah begitu mudah
tanpa berdosa, menyulitkan rakyat yang sudah sulit?
Menambah penderitaan rakyat yang sudah sangat menderita
Butakah mata mereka?
jutaan masyarakat Indonesia belum merdeka
Tulikah telinga mereka?
Rakyat menjerit karena hidup semakin terhimpit
Aku bertanya,
Di mana hati nurani mereka?
hati nurani telah pergi dari negeri ini?
Hati nurani para pemimpin telah mati
Rakyat dibuat ketakutan
Mereka tak tahu kemana mencari makan
Rakyat dalam bahaya
Mereka terancam tak berdaya
Kemiskinan, pengangguran, penggusuran, dan kebodohan
Orang miskin dilarang sakit
Karena biaya pengobatan menjunjung tinggi selangit
Orang miskin dipaksa tak sekolah
Karena spp mahal tak terjamah
Indonesia kembali berduka,
Rakyat kembali dibuat sengsara…
Sungguh, aku tak mengerti
kenapa Negara menteror warganya sendiri??
Teror dalam wajah yang berbeda
Senin, 10 Mei 2010
PEMILU, UNTUK APA DAN UNTUK SIAPA?
Pemilihan umum (PEMILU) merupakan salah satu ciri dari negara yang menganut faham demokrasi. Di Indonesia, PEMILU diadakan setiap 5 tahun sekali. 8 Juli mendatang bangsa Indonesia akan menggelar pemilihan umum untuk memilih presiden dan wakil presiden periode 2009-2014. Ada pertanyaan yang mengganggu dalam benak pikiran saya selama ini, "untuk siapa pemilu itu?".
Akhir-akhir ini pemberitaan di media massa, baik cetak maupun elektronik, selalu dihiasi oleh berita-berita seputar "kasak-kusuk" capres dan cawapres dalam mengahadapi pemilihan presiden 8 Juli mendatang. Mulai dari koalisi parpol, sampai deklarasi pasangan capres dan cawapres. Ada yang mendeklarasikannya di tempat bersejarah, di gedung mewah, sampai di tempat pembuangan sampah. Anggarannya pun berbeda-beda, ada yang hanya menghabiskan 20 juta, 500 juta, bahkan ada juga mencapai lebih dari 1 miliar. Uang itu dihamburkan ditengah kesengsaraan dan penderitaan rakyat. Andai saja dana sebesar itu, dialokasikan untuk membantu rakyat miskin, tentunya akan jauh lebih bermanfaat ketimbang hanya untuk mengadakan acara deklarasi.
Entah apa yang ada dalam pikiran elit politik kita? Semua ingin berkuasa, semua ingin menjadi presiden. Semua bicara soal perubahan, semua bicara soal kesejahteraan rakyat. Bukankah tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh seorang presiden itu teramat berat?? Tapi mengapa banyak orang yang ingin memperebutkannya?
PEMILU kali ini menghabiskan dana yang jumlahnya tidak sedikit, diperkirakan mencapai 22,3 Triliun sebagaimana yang dianggarkan oleh KPU. Jumlah yang sangat besar, begitu mahal jalan demokrasi yang kita pilih. Namun. apa yang dihasilkan dari PEMILU?? Apakah rakyat kian sejahtera?
Sudah lama rakyat indonesia merindukan perubahan, bertahun-tahun rakyat memimpikan kesejahteraan siang dan malam. Namun mimpi itu belum kian mewujud. Setiap kali pemilu, angin surga tentang perubahan selalu dihembuskan oleh para elit politik. Janji manis selalu terucap. Seperti kata Roma Irama dalam syair lagunya "surga yang engkau janjikan, neraka yang ku dapatkan, manisnya janjimu padaku, mengalahkan manisnya madu."
Namun, setelah pemilu selesai dan mereka telah terpilih rakyat kembali dilupakan. Dan ini rutin terjadi setiap lima tahun sekali. Mereka baru mendekati rakyat, hanya ketika menjelang pemilu. Kemana saja mereka selama ini? Kasihan rakyat, selalu menjadi korban. Maka, untuk APA dan untuk siapa sebenarnya PEMILU?
Semoga kali ini, pemilu benar2 untuk perubahan, untuk kepentingan rakyat, dan untuk kesejahteraan rakyat. Semoga,,,, (ditulis pada saat menjelang pemilu 2009 yang lalu)
Akhir-akhir ini pemberitaan di media massa, baik cetak maupun elektronik, selalu dihiasi oleh berita-berita seputar "kasak-kusuk" capres dan cawapres dalam mengahadapi pemilihan presiden 8 Juli mendatang. Mulai dari koalisi parpol, sampai deklarasi pasangan capres dan cawapres. Ada yang mendeklarasikannya di tempat bersejarah, di gedung mewah, sampai di tempat pembuangan sampah. Anggarannya pun berbeda-beda, ada yang hanya menghabiskan 20 juta, 500 juta, bahkan ada juga mencapai lebih dari 1 miliar. Uang itu dihamburkan ditengah kesengsaraan dan penderitaan rakyat. Andai saja dana sebesar itu, dialokasikan untuk membantu rakyat miskin, tentunya akan jauh lebih bermanfaat ketimbang hanya untuk mengadakan acara deklarasi.
Entah apa yang ada dalam pikiran elit politik kita? Semua ingin berkuasa, semua ingin menjadi presiden. Semua bicara soal perubahan, semua bicara soal kesejahteraan rakyat. Bukankah tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh seorang presiden itu teramat berat?? Tapi mengapa banyak orang yang ingin memperebutkannya?
PEMILU kali ini menghabiskan dana yang jumlahnya tidak sedikit, diperkirakan mencapai 22,3 Triliun sebagaimana yang dianggarkan oleh KPU. Jumlah yang sangat besar, begitu mahal jalan demokrasi yang kita pilih. Namun. apa yang dihasilkan dari PEMILU?? Apakah rakyat kian sejahtera?
Sudah lama rakyat indonesia merindukan perubahan, bertahun-tahun rakyat memimpikan kesejahteraan siang dan malam. Namun mimpi itu belum kian mewujud. Setiap kali pemilu, angin surga tentang perubahan selalu dihembuskan oleh para elit politik. Janji manis selalu terucap. Seperti kata Roma Irama dalam syair lagunya "surga yang engkau janjikan, neraka yang ku dapatkan, manisnya janjimu padaku, mengalahkan manisnya madu."
Namun, setelah pemilu selesai dan mereka telah terpilih rakyat kembali dilupakan. Dan ini rutin terjadi setiap lima tahun sekali. Mereka baru mendekati rakyat, hanya ketika menjelang pemilu. Kemana saja mereka selama ini? Kasihan rakyat, selalu menjadi korban. Maka, untuk APA dan untuk siapa sebenarnya PEMILU?
Semoga kali ini, pemilu benar2 untuk perubahan, untuk kepentingan rakyat, dan untuk kesejahteraan rakyat. Semoga,,,, (ditulis pada saat menjelang pemilu 2009 yang lalu)
BERSYUKUR
Ada banyak hal yang harus kita syukuri dalam hidup ini. Seringkali kita tidak bersyukur atas apa yang kita miliki, sering pula kita mengeluh bila terjadi sebuah masalah dalam kehidupan kita. Kita sering merasa bahwa kita adalah orang yang paling terhimpit, orang yang paling stress, pusing, susah, dan lain sebagainya. Tapi jika kita melihat orang-orang di sekitar kita, ternyata masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih susah dibanding kita. Berapa banyak orang yang masalahnya jauh lebih berat dibandingkan dengan masalah yang kita hadapi. Tapi, kenapa kita sering mengeluh, kita sering kali alpa untuk bersyukur?
Suatu sore, beberapa waktu yang lalu di stasiun kereta api Kebayoran Lama. Ku lihat seorang nenek tua duduk di pinggir rel, sambil berjualan kerupuk, kacang rebus, dodol, dan sebagainya. Wajahnya penuh dengan kerutan, matanya terasa sayup, giginya pun sudah banyak yang ompong. Hatiku menangis bagai teriris. Dalam hati ku berkata "Oh Tuhan, nenek setua itu masih saja harus berjuang keras untuk menyambung hidupnya".
Masih kita tidak bersyukur? Masihkah kita akan mengeluh? Maka pantas, rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk selalu melihat orang yang lebih dibawah dari kita, dan melarang kita melihat orang yang lebih tinggi dalam segi harta, tidak lain dan tidak bukan adalah supaya kita bersyukur atas apa yang kita miliki. Tuhan, jadikan aku hamba-Mu yang pandai bersyukur.
Suatu sore, beberapa waktu yang lalu di stasiun kereta api Kebayoran Lama. Ku lihat seorang nenek tua duduk di pinggir rel, sambil berjualan kerupuk, kacang rebus, dodol, dan sebagainya. Wajahnya penuh dengan kerutan, matanya terasa sayup, giginya pun sudah banyak yang ompong. Hatiku menangis bagai teriris. Dalam hati ku berkata "Oh Tuhan, nenek setua itu masih saja harus berjuang keras untuk menyambung hidupnya".
Masih kita tidak bersyukur? Masihkah kita akan mengeluh? Maka pantas, rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk selalu melihat orang yang lebih dibawah dari kita, dan melarang kita melihat orang yang lebih tinggi dalam segi harta, tidak lain dan tidak bukan adalah supaya kita bersyukur atas apa yang kita miliki. Tuhan, jadikan aku hamba-Mu yang pandai bersyukur.
Langganan:
Komentar (Atom)